Yang Kamu Cari
Kamis, 31 Maret 2016
Entah
.
Maret, aku selalu suka dengan kata ini— bulan tepatnya. Untuk favoritku karena memang bulan kelahiranku selalu diisi dengan kenangan-kenangan manis. 2015 mundur sampai aku mengenal teman apalagi teman dekat, Maret selalu spesial. Tapi sedikit berbeda untuk tahun ini; 2016.
.
Kepergian merupakan hal yang amat menyakitkan, apalagi jika itu orang yang kita sayang. Ya, aku kehilangan orang yang sangat aku sayang; orang yang selalu aku harapkan; orang yang selalu aku mimpikan tetap bersamaku sampai entah kapan itu; orang yang baru tiga tahun lebih bersamaku tapi aku punya rasa yang luar biasa untuknya. Namun dia pergi, Maret ini.
.
Begitu pula teman. SMK, tiga tahun dan aku punya lima teman yang selalu setia bersamaku. Panas—hujan—hitam—putih— sampai akhirnya aku tahu hidup itu abu-abu. Aku sadar mereka hanya teman— teman, bukan lebih. Walaupun sejauh ini, seribu masalah yang ada, aku selalu bersama mereka; berenam. Hanya saja, sekarang aku tahu mereka bersamaku sekarang saja. Tidak untuk besok, atau nanti.
Sabtu, 19 Maret 2016
Aku Pamit
Kau menunggu datangnya malam saat ku menanti fajar
Sudah coba berbagai cara agar kita tetap bersama
Yang tersisa dari kisah ini hanya kau takut ku hilang
Perdebatan apapun menuju kata pisah
Jangan paksakan genggamanmu
Beberapa bulan lalu, aku lupa tepatnya, kita saling berjanji. Yang setelah ku pikirkan lagi, untuk apa kita melakukan itu? Jika kita "memang dan masih saling menyayangi", apakah janji tersebut perlu?
Tentang kamu berikan waktu untuk yakinkan diriku, aku benar-benar ingin bersamamu. Dan kamu, memberi banyak waktu untuk memikirkannya dan menjawabnya setelah aku selesai ujian.
Apakah itu perlu? Bukankah jika memang masih sayang, tanpa menanyakan padaku, kamu sudah tahu jawabannya? Bukankah jika masih sayang, aku tak akan meminta waktu untuk menjawabnya. Seperti saat kamu memintaku menjadi kekasihmu.
Namun semua berubah karena waktu. Setelah kita sepakat dengan janji itu, kita berubah; aku berubah dan kamu pun begitu.
Padahal sebelum janji itu kamu buat, kamu tidak seperti ini, kamu sangat berbeda. Apa janji itu hanya untuk jalan pintas kamu meninggalkanku? Apa janji itu untuk membuatku berpikir keburukanmu, kemudian akhirnya aku tak mau lagi bersamamu? Apa janji itu yang mengubahmu seperti ini?
Mengapa sekarang kamu berbeda? Kamu tahu? Pada awalnya di tiap waktu aku berharap kabarmu; selalu ingin mendengar suaramu dari seberang; selalu ingin kamu bertanya penasaran tentang keadaanku.
Tapi itu hanya masalah waktu sampai akhirnya aku bisa berdiri tanpamu; aku bisa hidup tanpamu; aku bisa lebih dari saat bersamamu. Aku lebih kuat sekarang.
Izinkan aku pergi dulu
Yang berubah hanya tak lagi ku milikmu
Kau masih bisa melihatku
Kau harus percaya ku tetap teman baikmu
Jarak
Aku berusaha mencari kabarmu. Mati-matian membuat kamu berbalik mencariku. Entah mengapa kamu masih saja seperti itu; seperti tidak menginginkanku.
Apa yang kamu katakan itu pertanda? Atau sebuah rencana? Tentang kamu tidak mempedulikanku karena jarak? Tentang kamu melupakanku karena sekitar?
Memangnya apa yang salah dengan jarak? Sebesar apa dosa jarak? Atau apa yang jarak lakukan sampai kamu membencinya?
Padahal, kamu yang membuatnya seolah-olah bersalah. Menyalahkannya seolah-olah dia yang membuatmu berubah. Memangnya mengapa? Apa arti sebuah jarak jika kamu bisa tetap menjadi kamu? Sebegitu pentingnya sampai kamu seperti ini?
Sabtu, 12 Maret 2016
Berkali
9:32 PM
Rabu, 30 Desember 2015. Tanggal lahir Ibuku di tahun 2015. Pulang kampung ke-tiga buat Indra. Sehari menuju pergantian tahun.
Indra bilang dia pulang sampai Kebumen hari Rabu, dia ke “homi” Sabtu malam. Entah kenapa, walaupun dia sakiti be-e-e-e-r-kali tapi aku selalu punya cara buat kasih maaf, buat terima maafnya dan berusaha lupa dengan masalah yang ada.
Kali ini beda, setelah “pertengkaran hebat” beberapa waktu sebelum Indra pulang yang ke-tiga ini, dia mulai beda. Sikapnya, cara Indra ngomong. Aku berusaha mincing dia dengan bilang, “Kamu bukan kamu yang dulu, dan aku-pun begitu”. Setelah beberapa hari emang aku rasa ada yang salah, Indra emang berubah.
Ini bukan tentang aku baper karena nonton Anime, tapi aku emang ngerasa, Indra pergi waktu dia pertama kali berangkat, waktu aku dan mbah antar dia ke terminal. Bisa dibilang itu terakhir kalinya aku “bareng sama Indra”.
Selasa, 08 Maret 2016
Andai
Andai kamu tahu, walaupun aku pernah bilang kalau kamu hanya pelarian, tapi semua itu sudah hilang.
Andai kamu tahu, dari awal aku menginstall aplikasi chatting, belum pernah sekalipun aku hapus chat-mu.
Walaupun, kamu jarang mengirim chat.
Walaupun, kamu tak pernah beri ucapan tiap tanggal 8.
Walaupun, kamu tak pulang saat aku ulang tahun sesuai janjimu.
Walaupun, perasaanmu sudah hilang.
.
.
-btw
Jumat, 18 September 2015
Kamu Buatku Tak Mengerti
Menjadi seseorang yang sudah mempunyai hubungan memang tidak mudah. Layaknya pohon; semakin tinggi jelas semakin besar angin yang menerpanya. Menjalani hubungan lebih dari 3 tahun bukanlah hal yang ringan.
Kamu tahu anak band? Atau personil band? Mereka pasti mencolok, atau menonjol, atau mungkin terkesan agak tenar. Ya, mempunyai hubungan atau singkatnya berpacaran dengan anak band tidaklah semenyenangkan kelihatannya. Kudu ekstra sabar, kudu ekstra pengertian dan perhatian.
Sayangnya, hal itu tidak ada pada diriku. Aku selalu marah, selalu tidak sabar dan ingin dia berhenti melakukannya. Seringkali, hal yang kupikir akan menghentikannya adalah tingkahku semaunya sendiri. Kulakukan.
Pada dasarnya memang aku bukanlah seorang yang perhatian, atau pengertian. Aku hanya punya satu kelebihan; setia. Sebelum 3 tahun ini, aku berpacaran hampir 9 bulan. Hubunganku kandas karena orang ketiga; perempuan. Mungkin aku terlalu sakit hati akan hal itu, aku terlalu dendam, dan entah atau benar adanya kalau "lucu ketika satu orang membencimu tetapi dia mengajak yang lain untuk membencimu juga". Sepertinya itu berlaku padaku ... (...)
-@btwinarni